Kamis, 11 Mei 2017

D I A

Dia si laki-laki yang sudah mencuri perhatianku sejak masih berkutat dengan kisah putih abu-abuku, saat aku masih bersama dengan orang lain, pun ia yang juga saat itu masih memiliki seseorang disisinya.

Dia si laki-laki yang entah kapan aku mengenalnya, namun disaat pertemuan kala itu ia berhasil menjadikanku seorang penguntit. Tersenyum diam-diam. Dan sibuk memerhatikannya diam-diam.

Dia si laki-laki yang membuat rasaku menjadi sebegitu membingungkan. Kadang aku kira rasaku sudah lenyap secara perlahan, namun nyatanya masih saja meninggalkan rindu yang bersisa.

Dia si laki-laki yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu perihal perasaanku, yang selalu saja bercerita ingin mencari seseorang tanpa tahu rasa sesakku kadang hadir diantara pintanya. Karena ia hanya tak pernah ingin menatapku, seolah tak ingin menyadari kehadiranku.

Dia si laki-laki yang selalu apa adanya, membuatku terpesona untuk kesekian kali hanya karena tawanya. Membuatku jatuh berkali-kali karena pribadinya. Dia sosok yang sering membuatku tertawa dengan debar yang sangat sulit kusembunyikan.

Dia si laki-laki yang sering menjadikan akhir pekanku begitu manis, lari pagi bersisian dengannya menjadi sesuatu yang kusukai atau aku yang hanya berlari dibelakangnya, memerhatikannya dengan bebas dan tersenyum lepas dibalik punggungnya.

Dia si laki-laki yang sangat sulit kutebak isi kepalanya, yang kadang aku kira ia berada dijalan yang sama denganku, yang kadang kukira ia mempunyai perasaan yang sama denganku, namun kadang ia seolah sangat sulit kugapai walau hanya dengan bayangnya.

Dia si laki-laki yang selalu ingin kuhapus dari ruang harapku, yang ingin ku enyahkan dari rapalan doa-doaku, namun pada akhirnya aku kembali memilih untuk memperjuangkannya sedikit lebih lama.

Dia si laki-laki yang sering kuceritakan pada-Nya, yang sering kubisikkan namanya diantara sujud-sujudku diujung sajadah. Yang saat ini masih saja menjadi pemeran utama dari kisah cinta diam-diam yang kuperankan.


Karena dia masih saja seorang laki-laki yang ku kenal dulu.

Selasa, 18 April 2017

Apa kita hanya teman?

Dengan begitu gamblangnya kau mengatakan bahwa kita tak akan perna menjadi lebih dari ini. Setiap ku bilang, tak akan pernah ada yang tau perihal masa depan bukan? Tak ada yang bisa memprediksi bagaimana kita nantinya. Namun, kau masih saja dengan percaya dirinya mengatakan, bagaimanapun kita tak akan pernah ada apa-apanya. Kita hanya teman. Titik.

Berani sekali kau, tuan!

Apa hakmu untuk melepuhkan harapku agar tak lagi berjuang untukmu? Biar saja aku dengan perasaanku yang masih begini adanya, pun kau dengan perasaanmu yang kau gambar jelas untuknya.
Aku tak peduli! Hatiku masih memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti kau dengan tulus akan membuka hatimu untukku.
Mereka bilang aku terlalu naif, aku terlalu berusaha untuk terlihat tegar. Namun tak banyak juga yang menghargai pilihanku untuk tetap bertahan pada ketidakpastian kita, lalu yang sebagian lainnya asik bermain dengan ketidakmengertian mereka.

Biar saja!

Aku sudah terlampau sering menepikan mereka yang  seakan mencoba menghempaskan harapku.
Selama kita masih dekat, selama hatiku masih memilihmu, dan selama kau masih belum terikat apa-apa dengannya. Aku masih akan tetap berusaha untuk merubah segalanya yang kau beri label "teman" menjadi apa yang ku harapkan.

Panggil aku si egois, karena hanya denganmu rindu ku masih ingin kembali.

Sebut saja aku si bodoh, karena mengharapmu masih menjadi kesukaanku saat ini.

Lalu setelahnya, kau akan sadar.

Perihal kesetiaan tak akan ada yang menandingiku.