Dia
si laki-laki yang sudah mencuri perhatianku sejak masih berkutat dengan kisah
putih abu-abuku, saat aku masih bersama dengan orang lain, pun ia yang juga saat
itu masih memiliki seseorang disisinya.
Dia
si laki-laki yang entah kapan aku mengenalnya, namun disaat pertemuan kala itu
ia berhasil menjadikanku seorang penguntit. Tersenyum diam-diam. Dan sibuk memerhatikannya
diam-diam.
Dia
si laki-laki yang membuat rasaku menjadi sebegitu membingungkan. Kadang aku
kira rasaku sudah lenyap secara perlahan, namun nyatanya masih saja
meninggalkan rindu yang bersisa.
Dia
si laki-laki yang tidak tahu atau pura-pura tidak tahu perihal perasaanku, yang
selalu saja bercerita ingin mencari seseorang tanpa tahu rasa sesakku kadang
hadir diantara pintanya. Karena ia hanya tak pernah ingin menatapku, seolah tak
ingin menyadari kehadiranku.
Dia
si laki-laki yang selalu apa adanya, membuatku terpesona untuk kesekian kali
hanya karena tawanya. Membuatku jatuh berkali-kali karena pribadinya. Dia sosok
yang sering membuatku tertawa dengan debar yang sangat sulit kusembunyikan.
Dia
si laki-laki yang sering menjadikan akhir pekanku begitu manis, lari pagi bersisian
dengannya menjadi sesuatu yang kusukai atau aku yang hanya berlari
dibelakangnya, memerhatikannya dengan bebas dan tersenyum lepas dibalik
punggungnya.
Dia
si laki-laki yang sangat sulit kutebak isi kepalanya, yang kadang aku kira ia
berada dijalan yang sama denganku, yang kadang kukira ia mempunyai perasaan
yang sama denganku, namun kadang ia seolah sangat sulit kugapai walau hanya
dengan bayangnya.
Dia
si laki-laki yang selalu ingin kuhapus dari ruang harapku, yang ingin ku
enyahkan dari rapalan doa-doaku, namun pada akhirnya aku kembali memilih untuk
memperjuangkannya sedikit lebih lama.
Dia
si laki-laki yang sering kuceritakan pada-Nya, yang sering kubisikkan namanya
diantara sujud-sujudku diujung sajadah. Yang saat ini masih saja menjadi
pemeran utama dari kisah cinta diam-diam yang kuperankan.
Karena
dia masih saja seorang laki-laki yang ku kenal dulu.