Tutur lembutmu malam itu melayangkan ilusiku terlalu tinggi hingga aku lupa untuk tetap berpijak.
Aku kira tatapan sepersekian detik yang biasa kita alami mampu menggetarkan sedikit hatimu.
Namun nyatanya hanya aku yang terlalu, dan kau yang pergi berlalu.
Aku pikir percakapan kita malam itu sudah menyentuh sisi ternyamanmu.
Kau bilang, aku begitu banyak membuatmu tertawa. Dan benar saja, kau tertawa dengan sebegitu nyamannya dengan bayangku yang ada dimatamu.
Hal yang membuatku semakin menumbuhkan keyakinan, kalau memang ada aku diantara rasa yang kupikir kau pun memilikinya.
Namun nyatanya aku terlalu cepat menyimpulkan segala tatapmu, segala tuturmu, segala tawamu, dan segala hal lainnya yang kukira ada aku didalamnya.
Karena memang hanya aku yang terlalu, dan kau yang pergi berlalu ... dengan dia.
Lalu seketika asaku terhempaskan ke jurang perih yang paling dalam.
Menyayat.
Menyakitkan.
Untuk kali ini remukkan saja, tuan.
Lalu setelahnya, silakan pergi!
Selasa, 07 Maret 2017
Minggu, 05 Maret 2017
Karena rayumu hanya candaan lalu
Entah aku perempuan keberapa yang kau buat tersipu diam-diam saat mengeluarkan kata-kata yang menurutku begitu manis.
Perlakuanmu yang seringkali ku anggap spesial dan selalu menciptakan debar tersendiri membuatku lupa kalau nyatanya bukan hanya aku. Mungkin sekarang kau akan menertawakanku, perempuan lugu dan bodoh ini selalu saja menganggap semuanya romantis hingga terkesan dramatis.
Seakan lupa kalau semuanya hanya candaan lalu bagimu. Seakan lupa kalau segalanya bukan hanya untukku.
Ah, dasar tuan berpesona magis.
Tolong jangan membiarkan aku mengukir harap yang berujung miris, dan pada akhirnya meninggalkan jejak tangis.
Perlakuanmu yang seringkali ku anggap spesial dan selalu menciptakan debar tersendiri membuatku lupa kalau nyatanya bukan hanya aku. Mungkin sekarang kau akan menertawakanku, perempuan lugu dan bodoh ini selalu saja menganggap semuanya romantis hingga terkesan dramatis.
Seakan lupa kalau semuanya hanya candaan lalu bagimu. Seakan lupa kalau segalanya bukan hanya untukku.
Ah, dasar tuan berpesona magis.
Tolong jangan membiarkan aku mengukir harap yang berujung miris, dan pada akhirnya meninggalkan jejak tangis.
Kamis, 02 Maret 2017
Pertemuan yang melibatkan kita
Aku benci dengan jarak, karenanya aku tak mampu memandangmu lebih lama. Ia juga menumbuhkan rindu yang semakin membuatku ingin menepiskan sekat. Menemuimu atau sekadar mendengar suaramu dari ujung telepon selalu menjadi obatku untuk menjinakkan rindu.
Tapi aku masih saja menjadi pengagummu yang pengecut, masih tak benar-benar berani untuk memulai. Aku terlalu takut dengan pengabaian, aku takut mengganggu nyamanmu. Sayangnya rinduku sudah pada tahap yang keterlaluan, ia menggebu dan ingin segera bebas.
Setelahnya selalu ada mereka, pihak yang selalu berusaha menguapkan rinduku dengan pertemuan yang melibatkan kita.
Mungkin kau sudah bosan dengan panggilan teman-temanku dilayar ponselmu dan selanjutnya akan ada aku diantara pembicaraan kalian, entah menjadi pembicara pasif atau hanya menjadi pendengar setia dari obrolan seru yang kalian lakukan.
Mungkin kau akan sedikit heran dengan ajakan teman-temanku yang terlalu sering mengajakmu bertemu, dan lagi-lagi akan ada aku yang seringnya hanya menjadi sosok yang lebih banyak diamnya, menjadi pemeran dengan naskah yang lebih banyak tertawanya saat kau melontarkan candaan yang semakin membuatku ingin bertemu lagi dan lagi.
Teruntuk mereka yang tak pernah bosan mengiyakan segala mauku hanya untuk lebih dekat denganmu, terima kasih yah.
Teruntuk kamu yang mungkin sudah bosan dengan hadirku, terima kasih juga karena telah mengiyakan segala permintaan, ajakan, ataupun paksaan dari mereka.
Teruntuk rinduku, tolong untuk saat ini diam saja diruang senyap hingga temu kembali berpihak pada kita.
Tapi aku masih saja menjadi pengagummu yang pengecut, masih tak benar-benar berani untuk memulai. Aku terlalu takut dengan pengabaian, aku takut mengganggu nyamanmu. Sayangnya rinduku sudah pada tahap yang keterlaluan, ia menggebu dan ingin segera bebas.
Setelahnya selalu ada mereka, pihak yang selalu berusaha menguapkan rinduku dengan pertemuan yang melibatkan kita.
Mungkin kau sudah bosan dengan panggilan teman-temanku dilayar ponselmu dan selanjutnya akan ada aku diantara pembicaraan kalian, entah menjadi pembicara pasif atau hanya menjadi pendengar setia dari obrolan seru yang kalian lakukan.
Mungkin kau akan sedikit heran dengan ajakan teman-temanku yang terlalu sering mengajakmu bertemu, dan lagi-lagi akan ada aku yang seringnya hanya menjadi sosok yang lebih banyak diamnya, menjadi pemeran dengan naskah yang lebih banyak tertawanya saat kau melontarkan candaan yang semakin membuatku ingin bertemu lagi dan lagi.
Teruntuk mereka yang tak pernah bosan mengiyakan segala mauku hanya untuk lebih dekat denganmu, terima kasih yah.
Teruntuk kamu yang mungkin sudah bosan dengan hadirku, terima kasih juga karena telah mengiyakan segala permintaan, ajakan, ataupun paksaan dari mereka.
Teruntuk rinduku, tolong untuk saat ini diam saja diruang senyap hingga temu kembali berpihak pada kita.
Langganan:
Postingan (Atom)