Selasa, 18 April 2017

Apa kita hanya teman?

Dengan begitu gamblangnya kau mengatakan bahwa kita tak akan perna menjadi lebih dari ini. Setiap ku bilang, tak akan pernah ada yang tau perihal masa depan bukan? Tak ada yang bisa memprediksi bagaimana kita nantinya. Namun, kau masih saja dengan percaya dirinya mengatakan, bagaimanapun kita tak akan pernah ada apa-apanya. Kita hanya teman. Titik.

Berani sekali kau, tuan!

Apa hakmu untuk melepuhkan harapku agar tak lagi berjuang untukmu? Biar saja aku dengan perasaanku yang masih begini adanya, pun kau dengan perasaanmu yang kau gambar jelas untuknya.
Aku tak peduli! Hatiku masih memiliki keyakinan bahwa suatu saat nanti kau dengan tulus akan membuka hatimu untukku.
Mereka bilang aku terlalu naif, aku terlalu berusaha untuk terlihat tegar. Namun tak banyak juga yang menghargai pilihanku untuk tetap bertahan pada ketidakpastian kita, lalu yang sebagian lainnya asik bermain dengan ketidakmengertian mereka.

Biar saja!

Aku sudah terlampau sering menepikan mereka yang  seakan mencoba menghempaskan harapku.
Selama kita masih dekat, selama hatiku masih memilihmu, dan selama kau masih belum terikat apa-apa dengannya. Aku masih akan tetap berusaha untuk merubah segalanya yang kau beri label "teman" menjadi apa yang ku harapkan.

Panggil aku si egois, karena hanya denganmu rindu ku masih ingin kembali.

Sebut saja aku si bodoh, karena mengharapmu masih menjadi kesukaanku saat ini.

Lalu setelahnya, kau akan sadar.

Perihal kesetiaan tak akan ada yang menandingiku.

Minggu, 02 April 2017

Teruntuk Laki-laki Penikmat Hujan di Kota Hujan

Aksaramu tentangku sudah seringkali ku baca, sudah berulang-ulang kali aku menatap kata demi katanya. Aku suka kalimat-kalimatmu yang kau tujukan untukku, walau pada sajak yang lain bukan hanya tentang aku.

Aku kadang masih teringat usahamu memperjuangkanku, mendekatiku. Melelahkan bukan? Yang pastinya sekaligus menyakitkan buatmu karena nyatanya hatiku tidak lebih lunak dari batu pualam.

Tapi aku ingin memberitahukan sedikit rahasia kecilku.

Tahu tidak kenapa aku dengan sekeras kepalanya tetap tak ingin luluh karenamu? Karena kau tak lebih berharga dari hati yang lebih ingin ku jaga, hati sahabatku. Mungkin kau akan mengatakan, semua sudah menjadi masa lalu kalian, semua sudah jauh tertinggal dibelakang. Tentang kenangan, tentang rasa, dan tentang kalian.
Namun sayangnya semua tak sesederhana itu, tak semudah itu untuk memulai dengan bayang-bayang masa lalu kalian yang seakan membuntutiku dari belakang.

Sesungguhnya usahamu tak sepenuhnya sia-sia, karena aku pernah dengan teledornya membuat sedikit pintu hatiku terbuka, namun sayangnya disaat yang sama kau juga berbalik, sedangkan aku hanya bisa menatap punggungmu yang berlalu menjauh. Aku tak mungkin dengan teganya tetap menahanmu dengan perasaanku yang saat itu masih samar, hingga akhirnya aku kira kau telah benar-benar pergi, aku kembali memilih untuk masuk ke ruang perasaan yang sama, yang telah lama menjadi tempatku bersemayam.
Hingga kau datang kembali membawa rindu yang ternyata selama ini kau tanggung sendirian, tapi aku dengan sebegitu nyamannya terlanjur ingin menetap di ruang ini.

Lalu seterusnya, perasaan kita tak pernah memiliki titik temu.

Maaf dengan segala keegoisanku.

Semoga kau mendapatkan kebahagiaanmu sendiri diantara senja yang ku sukai atau dibawah rintik hujan yang menjadi candumu.