Dengan begitu gamblangnya kau mengatakan bahwa kita
tak akan perna menjadi lebih dari ini. Setiap ku bilang, tak akan pernah ada
yang tau perihal masa depan bukan? Tak ada yang bisa memprediksi bagaimana kita
nantinya. Namun, kau masih saja dengan percaya dirinya mengatakan, bagaimanapun
kita tak akan pernah ada apa-apanya. Kita hanya teman. Titik.
Berani sekali kau, tuan!
Apa hakmu untuk melepuhkan harapku agar tak lagi
berjuang untukmu? Biar saja aku dengan perasaanku yang masih begini adanya, pun
kau dengan perasaanmu yang kau gambar jelas untuknya.
Aku tak peduli! Hatiku masih memiliki keyakinan
bahwa suatu saat nanti kau dengan tulus akan membuka hatimu untukku.
Mereka bilang aku terlalu naif, aku terlalu berusaha
untuk terlihat tegar. Namun tak banyak juga yang menghargai pilihanku untuk
tetap bertahan pada ketidakpastian kita, lalu yang sebagian lainnya asik
bermain dengan ketidakmengertian mereka.
Biar saja!
Aku sudah terlampau sering menepikan mereka
yang seakan mencoba menghempaskan
harapku.
Selama kita masih dekat, selama hatiku masih
memilihmu, dan selama kau masih belum terikat apa-apa dengannya. Aku masih akan
tetap berusaha untuk merubah segalanya yang kau beri label "teman"
menjadi apa yang ku harapkan.
Panggil aku si egois, karena hanya denganmu rindu ku
masih ingin kembali.
Sebut saja aku si bodoh, karena mengharapmu masih
menjadi kesukaanku saat ini.
Lalu setelahnya, kau akan sadar.
Perihal kesetiaan tak akan ada yang menandingiku.