Aksaramu tentangku sudah seringkali ku baca, sudah
berulang-ulang kali aku menatap kata demi katanya. Aku suka kalimat-kalimatmu
yang kau tujukan untukku, walau pada sajak yang lain bukan hanya tentang aku.
Aku kadang masih teringat usahamu memperjuangkanku,
mendekatiku. Melelahkan bukan? Yang pastinya sekaligus menyakitkan buatmu
karena nyatanya hatiku tidak lebih lunak dari batu pualam.
Tapi aku ingin memberitahukan sedikit rahasia
kecilku.
Tahu tidak kenapa aku dengan sekeras kepalanya tetap
tak ingin luluh karenamu? Karena kau tak lebih berharga dari hati yang lebih
ingin ku jaga, hati sahabatku. Mungkin kau akan mengatakan, semua sudah menjadi
masa lalu kalian, semua sudah jauh tertinggal dibelakang. Tentang kenangan,
tentang rasa, dan tentang kalian.
Sesungguhnya usahamu tak sepenuhnya sia-sia, karena aku
pernah dengan teledornya membuat sedikit pintu hatiku terbuka, namun sayangnya
disaat yang sama kau juga berbalik, sedangkan aku hanya bisa menatap punggungmu
yang berlalu menjauh. Aku tak mungkin dengan teganya tetap menahanmu dengan
perasaanku yang saat itu masih samar, hingga akhirnya aku kira kau telah
benar-benar pergi, aku kembali memilih untuk masuk ke ruang perasaan yang sama,
yang telah lama menjadi tempatku bersemayam.
Hingga kau datang kembali membawa rindu yang
ternyata selama ini kau tanggung sendirian, tapi aku dengan sebegitu nyamannya
terlanjur ingin menetap di ruang ini.
Lalu seterusnya, perasaan kita tak pernah memiliki
titik temu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar