Setelah lelah berharap, nyatanya aku juga lelah dengan usaha melupakan.
Perasaan selalu saja memilih dengan jalannya sendiri, tetap tak mau beriringan dengan logika yang susah payah aku alihkan dari segala hal tentangmu.
Enam tahun yang sudah cukup membuatku menjadi pengagummu yang handal. Aku sudah terlampau profesional dalam hal menanggung rindu.
Bukan kah terlalu egois jika aku terus meminta pada penciptamu agar bisa menjadikan kita di masa depan? Aku tak ingin menjadi pemaksa agar kau sedikit menilik hati yang sudah lama diam-diam mendambamu.
Tapi aku rasa kau juga tak cukup bodoh untuk sekadar mengetahui apa yang aku rasa. Terus saja memainkan peranmu seakan kau memang tak mengetahui apa-apa.
Untuk tatap, canda, dan renyah tawamu izinkan aku tetap menjadikannya salah satu alasanku melengkungkan garis bahagia.
Karena kamu masih saja menjadi tujuan untuk doa-doa yang sering aku rapalkan.
-dari gadis yang katanya
sedang mencoba
melupakanmu
Tidak ada komentar:
Posting Komentar