Aku benci dengan jarak, karenanya aku tak mampu memandangmu lebih lama. Ia juga menumbuhkan rindu yang semakin membuatku ingin menepiskan sekat. Menemuimu atau sekadar mendengar suaramu dari ujung telepon selalu menjadi obatku untuk menjinakkan rindu.
Tapi aku masih saja menjadi pengagummu yang pengecut, masih tak benar-benar berani untuk memulai. Aku terlalu takut dengan pengabaian, aku takut mengganggu nyamanmu. Sayangnya rinduku sudah pada tahap yang keterlaluan, ia menggebu dan ingin segera bebas.
Setelahnya selalu ada mereka, pihak yang selalu berusaha menguapkan rinduku dengan pertemuan yang melibatkan kita.
Mungkin kau sudah bosan dengan panggilan teman-temanku dilayar ponselmu dan selanjutnya akan ada aku diantara pembicaraan kalian, entah menjadi pembicara pasif atau hanya menjadi pendengar setia dari obrolan seru yang kalian lakukan.
Mungkin kau akan sedikit heran dengan ajakan teman-temanku yang terlalu sering mengajakmu bertemu, dan lagi-lagi akan ada aku yang seringnya hanya menjadi sosok yang lebih banyak diamnya, menjadi pemeran dengan naskah yang lebih banyak tertawanya saat kau melontarkan candaan yang semakin membuatku ingin bertemu lagi dan lagi.
Teruntuk mereka yang tak pernah bosan mengiyakan segala mauku hanya untuk lebih dekat denganmu, terima kasih yah.
Teruntuk kamu yang mungkin sudah bosan dengan hadirku, terima kasih juga karena telah mengiyakan segala permintaan, ajakan, ataupun paksaan dari mereka.
Teruntuk rinduku, tolong untuk saat ini diam saja diruang senyap hingga temu kembali berpihak pada kita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar