Selasa, 07 Maret 2017

Remukkan saja, lalu silakan pergi!

Tutur lembutmu malam itu melayangkan ilusiku terlalu tinggi hingga aku lupa untuk tetap berpijak.
Aku kira tatapan sepersekian detik yang biasa kita alami mampu menggetarkan sedikit hatimu.
Namun nyatanya hanya aku yang terlalu, dan kau yang pergi berlalu.
Aku pikir percakapan kita malam itu sudah menyentuh sisi ternyamanmu.
Kau bilang, aku begitu banyak membuatmu tertawa. Dan benar saja, kau tertawa dengan sebegitu nyamannya dengan bayangku yang ada dimatamu.
Hal yang membuatku semakin menumbuhkan keyakinan, kalau memang ada aku diantara rasa yang kupikir kau pun memilikinya.
Namun nyatanya aku terlalu cepat menyimpulkan segala tatapmu, segala tuturmu, segala tawamu, dan segala hal lainnya yang kukira ada aku didalamnya.
Karena memang hanya aku yang terlalu, dan kau yang pergi berlalu ... dengan dia.
Lalu seketika asaku terhempaskan ke jurang perih yang paling dalam.

Menyayat.

Menyakitkan.

Untuk kali ini remukkan saja, tuan.
Lalu setelahnya, silakan pergi!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar