Entah aku perempuan keberapa yang kau buat tersipu diam-diam saat mengeluarkan kata-kata yang menurutku begitu manis.
Perlakuanmu yang seringkali ku anggap spesial dan selalu menciptakan debar tersendiri membuatku lupa kalau nyatanya bukan hanya aku. Mungkin sekarang kau akan menertawakanku, perempuan lugu dan bodoh ini selalu saja menganggap semuanya romantis hingga terkesan dramatis.
Seakan lupa kalau semuanya hanya candaan lalu bagimu. Seakan lupa kalau segalanya bukan hanya untukku.
Ah, dasar tuan berpesona magis.
Tolong jangan membiarkan aku mengukir harap yang berujung miris, dan pada akhirnya meninggalkan jejak tangis.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar